Di Shanghai, Film Stadhuis Schandaal Syuting di Bawah Hujan Salju

POSFILM.COM – Film Stadhuis Schandaal baru saja menyelesaikan syuting terakhirnya dengan mengambil lokasi syuting di Shanghai, Cina. Sutradara Adisurya Abdi bersama lima belas crew dan pemain, di antaranya Tio Duarte, selama tiga hari – lima hari dengan perjalanan pergi-pulang kenegeri Tirai Bambu.

“Menariknya syuting di Shanghai ini turun salju. Padahal, sudah empat tahun di kota itu tidak turun salju di sana. Secara gambar menarik sekali untuk ditampilkan ke penonton,” ujar Adisurya.

Susasana yang sama dialami ketika pengambilan adegan di hotel. Pemeran Wisnu, ayah Fey, aktor Tio Duarte, merasakan betapa megah dan indahnya Shanghai dan kota Nimbo, lokasi syuting.

”Saya tidak mengira negara komunis tetapi semuanya tertib dan megah. Infrastrukturnya begitu hebat. Kagum saya,” ucap Tio yang merasa bangga bisa bermain dalam film Stadhuis Schandaal ini.

Ketika hendak berangkat ke Shanghai, Cina, Tio lupa memperpanjang paspor yang sudah habis masa berlakunya. Akhirnya dia berangkat sendiri menyusul Adisurya dan pemain lainnya yang sudah lebih dulu berangkat.

”Tapi, untuk syuting saya sudah siap meski telat. Dan, semuanya berjalan lancar,” tutur Tio, kembali disibukkan dengan syuting di beberapa cerita FTV.

Pengambilan adegan di Shanghai dan Nimbo ini merupakan syuting dan lokasi terakhir dari keseluruhan syuting film Stadhuis Schandaal.

“Tinggal memasukkan di postpro. Syuting terdahulu sudah dicicil termasuk untuk pembuatan CGI, memperkaya gambar supaya lebih indah,” jelas Adisurya.

Di perkirakan tiga buan kedepan film ini sudah finishing sudah bisa dinikmati oleh penonton film nasional disekitar bulan Juli atau Agustus tahun ini. Dari aspek cerita dan kemasan, capaian yang diinginkan oleh Adisurya adalah memberikan nuansa baru bagi karya filmnya.

”Di sini ada cerita sejarah factual yang harus diluruskan mengenai peristiwa Stadhuis ini. Yang kedua, saya mengemasnya dengan gambar dan musik pendekatan modern dan kekinian. Sehingga film ini selain sebagai informasi tetapi juga memberi hiburan,” ujar Adisurya.

Pendekatan musik yang ada di film ini satu di antara untuk menggiring perasaan penonton film melalui lagu Syair Kehidupan karya Areng Widodo. Lewat musik, gambar dan cerita, film Stadhuis Schandaal patut dinanti pemutarannya di bioskop.

Film ini memiliki ruang untuk memberitahu mereka, apa dan siapa yang pernah terjadi di negeri ini. Caranya ikuti selera mereka. Jaman `now` inikan susah,” kata pria kelahiran 29 Agustus 1956 itu.

Oleh karena itu, melalui Film Stadhuis Schandaal Adisurya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, dari tema-tema film yang dipenuhi horor yakni cerita sejarah namun masih dalam koridor yang tetap kekinian atau pop.

Stadhuis Schandaal mengisahkan tentang Fei (diperankan Amanda Rigbi), seorang mahasiswi Ilmu Budaya di Universitas Indonesia yang sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia.

Saat mencari bahan dan riset tentang itu di Kota Tua Jakarta, dia merasa diperhatikan oleh seorang gadis keturunan Belanda? Jepang, yang kemudian dikenal sebagai Saartje Specx atau dipanggil Sarah (Tara Adia).

Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei saat dering telepon membuyarkan perhatiannya akan sosok Sarah itu. Pertemuan Fei dengan Sarah membuat dia tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam pikirannya siapa sosok wanita yang memperhatikannya di Museum Fatahillah yang dulu bernama Stadhuis itu.

Ada dua kurun waktu yang akan ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting jaman kolonial dan kekinian (modern).

Tidak hanya menyutradarai, Adisurya Abdi juga menulis skenario film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Jakarta, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan Shanghai, Tiongkok.

Adisurya Abdi menuturkan film yang rencananya diputar di bioskup tanah air pada tahun 2018 itu menghabiskan biaya produksi sekitar Rp6,5 miliar di luar biaya promosi.

Menanggapi kemungkinan “Stadhuis Schandaal” bernasib sama seperti film-film sejarah yang kurang diminati penonton, Adisurya Abdy yang juga Kepala Sinematek Indonesia periode 2013-2016 itu mengatakan hal itu bukanlah sesuatu yang utama baginya.

“Buat saya nggak penting. Yang penting dengan film ini orang jadi melihat mengetahui maksud dan tujuan kita. Yang penting anak `jaman now` bisa bilang film ini `wow keren,” katanya.

Selain Tara Adia dan Amanda Rigbi, sejumlah pemain lain yang terlibat dalam film tersebut yakni Michale Lee (Pieter Cortenhoff), Rensi Millano (Samina), Volland Humonggo (Danny Wong), George M Taka (J.P. Coen), Roweina Umboh (Eva Mert), Iwan Burnani (Jaques Spech) dan Septian Dwicahyo (Hans).  [PF /DidangP.Sasmita]